Dokumentasi Pribadi PT Japris, 2021

Dalam melakukan suatu proses pekerjaan pembangunan pelabuhan, pengerukan, pemasangan kabel dan pipa bawah laut, pemetaan dan navigasi, eksplorasi, dll. membutuhkan data – data primer mengenai kondisi lingkungan di lokasi pekerjaan/pembangunan. Kondisi lingkungan tersebut meliputi gelombang, arus, pasang surut dan kualitas air. Oleh karena itu perlu dilakukan survei hidro-oceanografi untuk melihat kondisi lingkungan di area pekerjaan/pembangunan. Berdasarkan Standar Kualifikasi Kompetensi Hidrografi Dan Oseanografi Dalam Mendukung Survei Hidro-Oseanografi yang diterbitkan oleh Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL pengumpulan data hidro-Oseanografi di lapangan merupakan serangkaian kegiatan survei dan pemetaan.

Dokumentasi Pribadi PT Japris, 2021

Dalam pekerjaan survei Hidro-Oseanografi, terdapat berbagai kegiatan yang dilakukan seperti:

1.  Survei batimetri

  • Dalam melakukan survei batimetri dapat menggunakan Singlebeam Echosounder (SBES) atau Multibeam Echosounder (MBES)
  • Pengecekan posisi BM Eksisting yang akan digunakan sebagai titik referensi ketinggian
  • Pelaksanaan survei batimetri biasanya dilakukan bersamaan dengan pengukuran pasang surut karena hasil pengukuran pasang surut akan digunakan untuk koreksi hasil survei batimetri.
  • Sebelum melakukan survei batimetri dilakukan perencanaan jalur pemeruman atau jalur sounding, dimana jalur tersebut nantinya yang akan menjadi jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik awal sampai ke titik akhir dari kawasan survei
  • Jalur – jalur ini idealnya dibuatkan dengan interval jarak 25m, dan juga jalur cross tegak lurus garis pantai setiap 100 m dimana tergantung dengan seberapa luas area yang akan disurvei.
 

  1. Pengukuran arus
  • Dalam melakukan pengurusan arus laut dapat menggunakan Current Meter(CM) atau Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP)
  • Pengukuran arus idealnya dilakukan sama dengan pengukuran pasang surut namun dapat dilakukan dengan kecepatan dan arah arus pada saat neap dan spring
  1. Pengukuran pasang surut
  • Dalam melakukan pengukuran pasang surut dapat menggunakan palem pasut/ Tide Staffatau Tide Gauge
  • Dalam pengukuran pasang surut titik referensi yang digunakan adalah Bench Mark (BM) terdekat
  • Referensi nilai pasang surut yang digunakan adalah mLWS untuk pekerjaan perencaan yang berada di air dan direkomendasikan untuk mengetahui struktur yang di rancang terlalu tinggi atau rendah terhadap permukaan air laut.
  • Pengolahan data pasang surut dilakukan dengan menggunakan Metode Admiralty
  1. Pengukuran gelombang
  • Dalam melakukan pengukuran gelombang laut dapat menggunakan Automatic Water Level Recorder (AWLR) atau Wave Recorder
  1. Pengambilan sampel air laut dan sedimen dasar laut
  • Pengambilan sampel air dan sedimen dasar ini dilakukan untuk mengetahui kondisi karakteristik tanah di sekitar area pekerjaan/pembangunan
  • Pengambilan sampel air dan sedimen dasar dapat menggunakan grab sampler yang kemudian sampel tersebut di lakukan pengujian di Lab
Sumber : Salam, R. (2019). Standar Kualifikasi Kompetensi Hidrografi Dan Oseanografi Dalam Mendukung Survei Hidro-Oseanografi. www.pushidrosal.id
https://dpmptsp.tubaba.go.id/ikygacor/ https://pustaka.iainlangsa.ac.id/wp-content/kzgacor/ Slot gacor https://salemba.budiluhur.ac.id/assets/sgacor/ slot gacor https://kejari-bangkatengah.kejaksaan.go.id/img/ slot gacor https://disdukcapil.tubaba.go.id/template/kygacor/ https://kki.unpad.ac.id/assets/images/ https://e-smile.tubaba.go.id/assets/ slot88 slot777 pt777 slot maxwin